Sabtu, 01 Oktober 2016

HILANGNYA MORAL ANAK BANGSA



Oleh : Mawaddah Nasution, M.Psi, Psikolog
Ada beberapa mata pelajaran semasa Sekolah Dasar (SD) yang mungkin sangat membekas dalam ingatan sebagian besar orang, yaitu Bahasa Indonesia, Agama, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),  Ilmu Pengetahun Sosial (IPS), Matematika, dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Di era tahun 1990an, inilah beberapa mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa. Guru diberikan kebebasan penuh dalam memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah kepada siswanya. Siswa dinilai masih sangat menghargai gurunya, dan patuh terhadap nasehat yang disampaikan oleh gurunya. Sangat berbeda dengan kondisi yang ada pada saat ini. Pada masa sekarang banyak sekali terjadi perubahan dalam bidang pendidikan di Indonesia khsusnya, baik sistem, kurikulum, metode, media, dan terutama moral perilaku dari siswa,  mengapa demikian?
Mungkin kita sering bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi di dalam dunia pendidikan kita. Para siswa terkesan sudah kurang menghargai guru sebagai pendidik di sekolah, terkesan sering menyepelekan guru, yang tanpa mereka sadari suka atau tidak suka guru telah banyak berjasa dalam kehidupannya, tetapi itu semua dilakukan guru karena sudah menjadi tanggung jawabnya kepada siswa. Seperti semboyan yang sering kita dengar bahwa “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Nilai-nilai inilah yang sudah bergeser di dalam masyarakat kita. Apakah karena pelajaran tentang Pendidikan Moral sudah tidak di dapat lagi khususnya di SD? Anak-anak di SD sudah tidak lagi mendapatkan pemahaman akan pentingnya pelajaran sopan santun, beretika dengan baik, saling menghormati dan menyayangi dan sebagainya. Banyak contoh yang kita lihat disekitar kita, anak-anak sering melawan dengan guru, mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya, saling bermusuhan dengan teman dan perilaku-perilaku lain yang kurang terpuji.
Perlu diketahui untuk dapat membentuk suatu perilaku individu dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor Internal. Faktor internal adalah yang terdiri dari orang-orang yang terdekat dengan individu, yaitu keluarga. Keluarga berisikan Ayah, Ibu, kakak, adik, nenek, kakek dan sebagainya. Keluarga adalah pondasi dasar untuk menanamkan nilai-nilai moral atau nilai-nilai kebaikan pada anak. Anak akan mempelajari suatu hal dimulai dari keluarga. Jika keluarga selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak, menanamkan disiplin dan memberikan kasih sayang yang cukup, maka ia juga akan belajar tentang kebaikan dan diharapkan akan menampilkan perilaku yang baik pula. Namun jika sebaliknya, keluarga yang selalu sibuk, tidak pernah memperhatikan perkembangan anak, tidak memberikan contoh yang baik kepada anak, maka anak juga nantinya akan mempelajari hal yang sama, dan dikhawatirkan akan menampilkan perilaku yang kurang baik. Anak pada hakikatnya adalah cerminan orangtua, jika orangtua sering memperlihatkan perilaku yang buruk pada anak, maka secara tidak langsung akan tercermin dari perilaku si anak. Demikian juga sebaliknya.
Kedua, Faktor eksternal. Faktor eksternal  adalah lingkungan diluar keluarga, bisa teman main dilingkungan rumah, maupun teman-teman yang berada dilingkungan sekolah. Lingkungan atau faktor eksternal ini juga memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap perkembagan moral anak. Salah dalam memilih teman maka akan berdampak buruk bagi perilaku si anak tersebut. Terkadang tidak semua teman dapat dipercaya, tidak semua teman menuntun kita kejalan yang baik. Kita ambil contoh, seorang anak yang ketahuan guru sedang merokok dilingkungan sekolah. Pada dasarnya anak tersebut dinilai sebagai anak yang baik, tetapi mengapa bisa menampilkan perilaku demikian? Ini bisa terjadi karena dorongan dari teman, khawatir kalau tidak mengikuti apa yang diperintahkan teman, maka tidak akan memiliki teman di sekolah, dikatakan kuper dan sebagainya.
Banyak dari anak-anak yang menampilkan perilaku yang kurang baik disebabkan karena ikut-ikutan, ingin dikatan gaul, ingin dikenal lebih luas, akan tetapi salah menempatkan perilakunya. Akhirnya lingkungan akan melabel anak tersebut anak yang tidak memiliki moral atau etika yang baik.  Etika atau moral perilaku yang tidak baik harus secepatnya dicegah, agar generasi penerus nantinya dapat menampilkan pribadi yang baik. Hal ini harus didukung oleh orangtua dan lingkungan. Jika orangtua tidak tepat dalam menentukan sikap kepada anak maka, inilah yang dikhawatirkan akan mencetak generasi yang memiliki moral tidak baik. Sudah banyak contoh yang bisa dijadikan pelajaran, karena perbuatan anak yang tidak baik mendapatkan pembelaan dari orangtua, maka hasilnya anak akan merasa hebat dan merasa bebas melakukan semaunya. Semoga generasi-generasi penerus kita nantinya terhindar dari hal-hal yang buruk dan terutama terhindar dari kemiskinan moral.