Oleh
: Mawaddah Nasution, M.Psi, Psikolog
Ada
beberapa mata pelajaran semasa Sekolah Dasar (SD) yang mungkin sangat membekas
dalam ingatan sebagian besar orang, yaitu Bahasa Indonesia, Agama, Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahun
Sosial (IPS), Matematika, dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Di era tahun
1990an, inilah beberapa mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa. Guru
diberikan kebebasan penuh dalam memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah
kepada siswanya. Siswa dinilai masih sangat menghargai gurunya, dan patuh
terhadap nasehat yang disampaikan oleh gurunya. Sangat berbeda dengan kondisi
yang ada pada saat ini. Pada masa sekarang banyak sekali terjadi perubahan
dalam bidang pendidikan di Indonesia khsusnya, baik sistem, kurikulum, metode, media,
dan terutama moral perilaku dari siswa,
mengapa demikian?
Mungkin
kita sering bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi di dalam dunia
pendidikan kita. Para siswa terkesan sudah kurang menghargai guru sebagai pendidik
di sekolah, terkesan sering menyepelekan guru, yang tanpa mereka sadari suka
atau tidak suka guru telah banyak berjasa dalam kehidupannya, tetapi itu semua
dilakukan guru karena sudah menjadi tanggung jawabnya kepada siswa. Seperti
semboyan yang sering kita dengar bahwa “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”.
Nilai-nilai inilah yang sudah bergeser di dalam masyarakat kita. Apakah karena
pelajaran tentang Pendidikan Moral sudah tidak di dapat lagi khususnya di SD? Anak-anak
di SD sudah tidak lagi mendapatkan pemahaman akan pentingnya pelajaran sopan
santun, beretika dengan baik, saling menghormati dan menyayangi dan sebagainya.
Banyak contoh yang kita lihat disekitar kita, anak-anak sering melawan dengan
guru, mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya, saling bermusuhan dengan
teman dan perilaku-perilaku lain yang kurang terpuji.
Perlu
diketahui untuk dapat membentuk suatu perilaku individu dipengaruhi oleh dua
faktor. Pertama, faktor Internal.
Faktor internal adalah yang terdiri dari orang-orang yang terdekat dengan
individu, yaitu keluarga. Keluarga berisikan Ayah, Ibu, kakak, adik, nenek,
kakek dan sebagainya. Keluarga adalah pondasi dasar untuk menanamkan
nilai-nilai moral atau nilai-nilai kebaikan pada anak. Anak akan mempelajari
suatu hal dimulai dari keluarga. Jika keluarga selalu mengajarkan nilai-nilai
kebaikan kepada anak, menanamkan disiplin dan memberikan kasih sayang yang
cukup, maka ia juga akan belajar tentang kebaikan dan diharapkan akan
menampilkan perilaku yang baik pula. Namun jika sebaliknya, keluarga yang
selalu sibuk, tidak pernah memperhatikan perkembangan anak, tidak memberikan
contoh yang baik kepada anak, maka anak juga nantinya akan mempelajari hal yang
sama, dan dikhawatirkan akan menampilkan perilaku yang kurang baik. Anak pada
hakikatnya adalah cerminan orangtua, jika orangtua sering memperlihatkan
perilaku yang buruk pada anak, maka secara tidak langsung akan tercermin dari
perilaku si anak. Demikian juga sebaliknya.
Kedua,
Faktor eksternal. Faktor eksternal
adalah lingkungan diluar keluarga, bisa teman main dilingkungan rumah,
maupun teman-teman yang berada dilingkungan sekolah. Lingkungan atau faktor
eksternal ini juga memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap perkembagan
moral anak. Salah dalam memilih teman maka akan berdampak buruk bagi perilaku
si anak tersebut. Terkadang tidak semua teman dapat dipercaya, tidak semua
teman menuntun kita kejalan yang baik. Kita ambil contoh, seorang anak yang
ketahuan guru sedang merokok dilingkungan sekolah. Pada dasarnya anak tersebut
dinilai sebagai anak yang baik, tetapi mengapa bisa menampilkan perilaku
demikian? Ini bisa terjadi karena dorongan dari teman, khawatir kalau tidak
mengikuti apa yang diperintahkan teman, maka tidak akan memiliki teman di
sekolah, dikatakan kuper dan
sebagainya.
Banyak
dari anak-anak yang menampilkan perilaku yang kurang baik disebabkan karena
ikut-ikutan, ingin dikatan gaul,
ingin dikenal lebih luas, akan tetapi salah menempatkan perilakunya. Akhirnya
lingkungan akan melabel anak tersebut anak yang tidak memiliki moral atau etika
yang baik. Etika atau moral perilaku
yang tidak baik harus secepatnya dicegah, agar generasi penerus nantinya dapat
menampilkan pribadi yang baik. Hal ini harus didukung oleh orangtua dan
lingkungan. Jika orangtua tidak tepat dalam menentukan sikap kepada anak maka,
inilah yang dikhawatirkan akan mencetak generasi yang memiliki moral tidak
baik. Sudah banyak contoh yang bisa dijadikan pelajaran, karena perbuatan anak
yang tidak baik mendapatkan pembelaan dari orangtua, maka hasilnya anak akan
merasa hebat dan merasa bebas melakukan semaunya. Semoga generasi-generasi
penerus kita nantinya terhindar dari hal-hal yang buruk dan terutama terhindar
dari kemiskinan moral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar